Categories
Fundamental Highlight

Ekonomi China di Ambang Krisis, Benarkah?

Setelah pertumbuhan pesat selama 30 tahun, dengan GDP mencapai 2 digit per tahunnya, ekonomi China kini mulai melambat. GDP China 2012 merupakan yang terburuk dalam satu dekade terakhir dan bahkan untuk tahun ini IMF terus menurunkan estimasinya, menjadi 7,75% saja. Lebih buruk lagi, China sendiri mengatakan bahwa GDP tahun ini bisa jadi di bawah 7%.

Pertumbuhan Ekonomi China ‘Booming’

Investasi di China sangat luar biasa besarnya. Pasca krisis 2008, China menghabiskan 4 triliun Yuan, atau lebih dari USD 650 miliar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat ini, telah terjadi investasi yang berlebihan, tidak ada lagi apartemen, bandara, pelabuhan atau infrastruktur lain yang perlu dibangun, membuat pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat. Pemerintah China bisa saja memompa lebih banyak dana ke dalam perekonomian, namun efeknya diperkirakan tidak akan sedahsyat tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, ekspor juga menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi China. Sejak tahun 2012, investasi mulai berkurang, ekspor juga mulai menurun seiring krisis yang terjadi di dunia, di antaranya Eurozone. Di samping itu, biaya produksi di China juga meningkat terus dari tahun ke tahun, sehingga mengurangi daya tarik perusahaan-perusahaan untuk berinvestasi di sana. Selain itu, apresiasi Yuan juga membuat China menjadi kurang kompetitif dibanding sebelumnya. Negara-negara berkembang di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Thailand dan Indonesia, tentunya akan menawarkan opsi yang lebih menguntungkan.

Sektor Properti China Alami Bubble?

Hal-hal di atas membuat tingkat pendapatan masyarakat China berkurang, sementara itu harga-harga terus melambung, bahkan harga properti mengalami “bubble”, terutama di kota-kota besar. Dengan situasi ini, masyarakat China menjadi berkurang tingkat konsumsinya, menyebabkan perekonomian menjadi macet. Perumahan atau apartemen tanpa pembeli, tentunya akan menjadi bencana bagi sektor properti China. Kredit macet tentunya akan menghantui apabila harga rumah mengalami ‘crash’, sebagaimana terjadi di Amerika pada 2008 silam.

Memperburuk situasi di atas, utang di China membengkak luar biasa, membuat bank-bank harus menggelontor kas lebih banyak. Dalam laporan-laporan terakhir, dikabarkan utang telah mencapai dua kali ukuran perekonomian China, atau delapan kali lebih besar dari 10 tahun silam.

Reformasi yang mendasar perlu segera dilakukan dan model ekonomi China harus segera diperbaiki. Saat ini, China masih antusias bisa mengatasi permasalahan ekonomi mereka. Namun demikian, sejumlah indikasi di atas bukahlah hal positif. Tentunya perlu perencanaan matang dan kebijakan-kebijakan yang tepat, jika salah langkah, maka salah satu ekonomi terbesar di dunia bisa mengalami kehancuran, yang berarti pula krisis bagi dunia secara keseluruhan.