Categories
Fundamental Highlight

Bubble di Sektor Kredit Bisa Runtuhkan Perbankan China?

Fitch, melalui analisnya Charlene Chu, mengungkapkan sebuah pandangan tentang sektor kredit di China, serta menyorot model pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu yang didorong oleh kredit. Menurutnya, resiko yang dihadapi China saat ini semakin besar, seiring dengan tidak terkontrolnya pertumbuhan kredit, serta ancaman deflasi seperti Jepang. Pandangan ini tampak berseberangan dengan pendapat sebagian besar analis lainnya dan cenderung sepi dari pemberitaan, karena semua lebih tertarik membahas krisis Eropa dan defisit Amerika, namun kini situasi di China menjadi sangat menarik untuk dipelajari lebih jauh, karena apabila benar, maka bisa saja mempengaruhi perekonomian dunia, mengingat ukuran perekonomian China dan peranannya terhadap ekonomi global saat ini.

Bubble Kredit di China?

Ekspansi kredit di China saat ini mencapai $23 triliun — jauh lebih besar dari $9 triliun lima tahun lalu — sebuah level yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bisa dibilang sudah di luar kendali. Pemerintahan local di daerah sudah memiliki utang yang berlebihan, begitu pula dengan berbagai institusi di China. Dengan semakin meningkatnya kredit, pemerintah tentunya akan mencari cara untuk memperbaiki masalah ini, termasuk melakukan pengetatan kebijakan, yang mana telah dilakukan sejak Mei — dan kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga beberapa saat ke depan. Sebagai dampaknya, likuditas sudah terlihat mulai berkurang dan perekonomian tidak lagi tumbuh secepat yang diharapkan, bahkan diprediksi bisa di bawah target 7% di kuartal ketiga dan keempat tahun ini. Hal ini bisa membebani institusi-institusi tersebut, terutama jika bunga pinjaman naik, otomatis akan menjadi masalah tersendiri.

Sistem perbankan China memiliki sebuah porsi yang disebut ‘Shadow Banking‘ — karena minimnya transparansi — yang terus membengkak dengan cepat dan tentunya membuat resiko terhadap keseluruhan sistem perbankan juga meningkat. Kita tidak tahu siapa pihak peminjam, siapa pemberi pinjaman, dan berbagai aspek penting lainnya yang seharusnya ada dalam sebuah proses kredit. Hal ini membuat perkiraan menjadi semakin sulit, tidak bisa diketahui berapa banyak peminjam yang tidak layak mendapatkan kredit. Dengan ratio kredit saat ini yang mencapai 200% dari GDP China, maka kredit macet bisa menjadi masalah yang sangat besar, karena bank-bank di China akan berpotensi mengalami kerugian besar dan bisa menjadi bencana bagi perekonomian Negeri Tirai Bambu.

Pertumbuhan cepat, namun didorong oleh kredit yang mengucur deras

Perbedaan situasi di China dengan krisis perbankan di Amerika pada saat Lehman Brothers tahun 2008 lalu adalah pemerintah China punya modal yang cukup untuk menyelamatkan sistem perbankan mereka. Cadangan modal yang disimpan oleh masing-masing bank di China juga jauh lebih besar dari bank-bank di Amerika. Perekonomian China mungkin tidak akan langsung hancur, bahkan tidak dalam waktu beberapa tahun ke depan. Namun perlu digarisbawahi bahwa melambatnya perekonomian China akan menjadi masalah bagi seluruh dunia. China merupakan salah satu konsumen terbesar di dunia, China merupakan pemegang terbesar utang-utang Amerika, China juga merupakan produsen utama barang dan jasa yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.

Bagaimana pendapat rekan-rekan trader mengenai pandangan ini?