
EUR/USD turun secara dramatis dari 1,1400 pada akhir Februari, menuju 1,0550 hari ini. Sejumlah faktor berikut menjadi pendorong melemahnya EUR/USD:
- Suku bunga ECB sudah sangat rendah, sebesar 0,05% saja, namun pertumbuhan ekonomi Eurozone masih terseok-seok dan inflasi masih sangat rendah. ECB pun harus menerapkan Quantitative Easing, menggelontorkan uang dalam jumlah besar ke dalam sistem perekonomian. Terlepas dari berhasil atau tidaknya program stimulus tersebut, langkah ini telah membuat nilai tukar Euro terdepresiasi.
- Masalah Yunani masih tidak kunjung usai dan negosiasi dengan para kreditornya masih belum membuahkan hasil. Semenjak Syriza memenangi Pemilu, isu keluarnya Yunani dari Uni Eropa semakin kuat berhembus.
- Perekonomian Eurozone sendiri tidak begitu bagus, selain Jerman sebagai negara terkuat, anggota Eurozone lainnya tengah terseok-seok. Perancis bahkan harus meminta tambahan waktu untuk ketiga kalinya untuk bisa memenuhi target defisit anggaran. Portugal dan Irlandia masih berusaha memulihkan perekonomiannya dari program bailout, sementara Spanyol dan Italia, seperti halnya Perancis, masih berkutat dengan masalah defisit anggaran.
- Di sisi lain, USD tengah menguat, menyusul data ekonomi Amerika yang solid, khususnya di sektor tenaga kerja, membuat pasar terus berekspektasi Fed akan segera mengetatkan kebijakan dan menaikkan suku bunga.